Saturday, 18 June 2011

Makalah - anggapan masy. ttg kejawen, klenik dan weton sekarang ini

Ini adalah makalah ku yang mbahas soal kejawen untuk tugas matkul "Pengantar Penelitian Teori Kebudayaan" yang kukumpulkan ke dosen tanggal 6 Juni 2011.

Mungkin kurang sempurna nih...>.< *nggak papa namanya masih belajar <---kata dosen* Semoga bermanfaat...

===========================================

PERSPEKTIF MASYARAKAT JAWA TERHADAP KEJAWEN, KLENIK DAN WETON DI MASA SEKARANG



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

“Kejawen” pembentukan kata nya berasal dari kata “Jawa” yang diberi keimbuhan ke- dan - an menjadi “Kejawaan”. Dan karena keluwesan lidah orang Jawa, maka istilah “Kejawaan” diucapkan menjadi “Kejawen”. Melihat dari pembentukan kata-katanya, dapat diartikan bahwa “Kejawen” adalah cara atau perilaku hidup orang-orang Jawa. Kejawen lebih kepada seperangkat cara hidup dan cara pandang atau falsafah hidup orang Jawa. Karena itulah didalamnya melingkupi bagaimana seorang Jawa itu bertingkah dan berperilaku dalam hidup. Begitu pula dengan pola pikir, sikap dan pola kehidupan.

Perilaku dan pola kehidupan yang diajarkan dalam Kejawen, contohnya adalah: Sopan santun, menghormati orang lain, guyub dan suka menolong, bersahaja, hidup dalam harmoni, serta mendekat kepada alam. Pembentukan diri agar memiliki pola pikir dan sikap sebagai orang Jawa ini dilalui dengan berbagai lelaku atau kegiatan yang mirip ibadah. Namun, berbeda dengan agama, lelaku dalam Kejawen tidak memiliki aturan yang ketat, semuanya menekankan konsep “keseimbangan”.

Kejawen ini sudah ada sejak zaman nenek moyang. Ada yang berpendapat bahwa falsafah hidup ini sudah ada sebelum agama-agama masuk ke Indonesia. Dan karena ke-fleksibilitas-an budaya Kejawen ini, sehingga dapat beradaptasi dan berasimilasi dengan budaya asing yang masuk termasuk agama-agama yang masuk. Namun, terjadi benturan dalam proses asimilasi tersebut dengan masyarakat jawa yang semakin hari semakin tidak memahami Kejawen.

Kurangnya pemahaman itulah menjadi benturan yang sangat keras bagi Kejawen ini. Menurut pandangan orang-orang yang mengerti Kejawen, kehadiran kepercayaan baru dari budaya asing yang tidak dari kultur Jawa dan tidak memahami apa sebenarnya Kejawen itu, sedikit demi sedikit membangun kesan bahwa budaya Jawa itu hina, memalukan, rendah martabatnya, dan kepercayaan lokal disebut sebagai kekafiran, syirik sehingga harus ditinggalkan bahkan oleh masyarakat yang memilikinya. Lalu digantikan dengan kepercayaan baru beserta budayanya. Kejadian tersebut diiringi dengan pewarisan Falsafah Jawa (Kawruh Kejawen) dari generasi ke generasi berikutnya yang umunya tidak disertai dengan bantuan bahasa yang mudah dipahami oleh generasi masa kini, akhirnya orang Jawa masa kini sulit memahaminya. Begitu pula soal weton yang hingga kini masih banyak yang digunakan oleh masyarakat Jawa. Karena itulah saya tertarik untuk menelitinya.


1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pandangan atau opini masyarakat Indonesia khususnya Jawa tentang Kejawen sekarang ini?
2. Kepercayaan weton masih marak digunakan oleh sebagian masyarakat Jawa. Apakah Weton itu sebenarnya?
3. Apa saja poin-poin falsafah hidup menurut Kejawen?


1.3 Lingkup Penelitian
Lingkup penelitiannya adalah masyarakat Jawa Timur bagian barat: beberapa masyarakat Jawa disana yang masih mengaku menerapkan Kejawen dan sebagian masyarakat Jawa disana yang lain yang mengaku sudah tidak menerapkan Kejawen.


1.4 Teori yang digunakan
Teori yang digunakan adalah perspektif fenomenologi yang sumber data nya didapatkan dari opini sekitar, blog-blog, website atau forum orang-orang yang memahami Kejawen, Agamawan dan masyarakat awam yang memuat pengetahuan serta opini mereka. Dari data-data tersebut kemudian ditelisik terlebih dahulu dari sisi Kejawen, selanjutnya kepada Ilmu klenik dimana weton dipahami sebagai ilmu klenik oleh masyarakat sekarang. Setelah mengerti apa itu Ilmu Klenik, kemudian dijabarkan apa itu pengertian Weton dan alasan bahwa weton tidak termasuk Ilmu Klenik. Dari situ kemudian disimpulkan bagaimana sebenarnya masalah-masalah yang ada dalam rumusan masalah diatas.




BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pandangan atau opini masyarakat Jawa tentang Kejawen di masa sekarang ini.

Umumnya ketika mendengar kata “Kejawen” reaksi orang-orang bermacam-macam. Beberapa orang yang masih mengerti budaya Kejawen, memaparkan bahwa Kejawen adalah falsafah hidup orang Jawa. Reaksi komentator berbeda-beda. Kebanyakan menganggap Kejawen itu identik dengan dukun, supranatural, tahayul, mistik dan paranormal. Menurut pandangan masyarakat yang lebih condong ke agama khususnya agama islam, Kejawen dianggap sesat, syrik, mistik karena ritualnya melibatkan makhluk halus, jin, praktik perdukunan dan klenik (menurut pengertian masyarakat umum). Itulah respon negatif menurut perspektif masyarakat Kejawen atas respon pemaparan masyarakat Kejawen tersebut diatas.

Menurut pendapat atau pemahaman masyarakat agamis tersebut, ritual Kejawen yang melibatkan jin dan makhluk halus tersebut mengandung penyembahan dan pembacaan mantra kepada makhluk-makhluk tersebut yang akhirnya disimpulkan menyembah selain Tuhan yang dipercaya oleh agama masing-masing dan menduakan Tuhan yang tidak sesuai dengan ajaran agama (tertentu). Disini masyarakat agamis kebanyakan menganggap bahwa Kejawen merupakan sebuah Agama. Yaitu agama lokal, agama nenek moyang masyarakat jawa, bukan sebagai prinsip atau falsafah hidup orang Jawa. Sehingga kebanyakan mereka mengatakan kalau Kejawen itu sesat karena tidak sesuai dengan ajaran agama dsb.

Menurut sebagian masyarakat Jawa yang masih memahami kejawen memaparkan bahwa kejawen bukanlah agama dan agama bukanlah kejawen. Orang Jawa sendiri tidak merasa bahwa itu merupakan suatu agama. Tindakan-tindakan perluasan ajaran seperti halnya agama-agama pada umumnya tidak ada dalam Kejawen. Lingkupnya hanya ada di dalam masyarakat Jawa. Kejawen lebih kepada hasil kebudayaan jawa yang berupa falsafah hidup, tata cara hidup, dan pola hidup masyarakat Jawa yang berasal dari kesadaran hidup dan kepekaan orang-orang Jawa terhadap sekitarnya terlepas dari agama. Dan kepekaan tersebut, dikembangkan dengan cara menerapkan tindakan, pola kehidupan tertentu misalnya lelaku prihatin yang tujuannya untuk menempa diri agar kuat dan peka dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu kuat fisik, kuat mental, kuat jiwa, kuat dalam niat dan kemauan serta kuat dalam pengendalian diri.

Namun, tindakan, pola kehidupan dan lelaku itu yang sering kali disalah persepsikan oleh masyarakat masa kini menurut masyarakat kejawen tersebut. Salah persepsi dan salah pemahaman itu menimbulkan beberapa dampak. Dua dampak yang banyak terlihat adalah pertama, munculnya klenik yang menimbulkan adanya praktik perdukunan sehingga menyebabkan dampak yang kedua, yaitu masyarakat jawa yang agamis akhirnya memandang negatif melihat hal tersebut. Karena mungkin tidak sesuai dengan prinsip agama yang dianut masing-masing. Akhirnya banyak yang meninggalkan kebudayaan kejawen tersebut sehingga peninggalan budaya jawa satu ini dirasakan mulai luntur. Suatu kebiasaan yang tidak ada di dalam kitab suci agama dianggap sebagai kebiasaan yang haram. Semakin lama semakin kontras pemahaman antara kebudayaan dan agama.

Ilmu Klenik adalah salah satu dari tiga macam ilmu yang dikenal dalam Kejawen.
Tiga macam ilmu menurut Kejawen dalam blog Ki UmarJogja, yang merupakan salah satu dari sekian orang yang mengerti Kejawen, adalah:
Ilmu Katon, merupakan ilmu hasil persepsi panca indera. “Katon” artinya “dapat dilihat”. Ilmu katon dalam kejawen meliputi ilmu-ilmu alam seperti teknik membangun rumah, cara bercocok tanam, teknik mesin, teknik listrik dan semacamnya. Kata kuncinya adalah “cara atau teknik”.

Lalu yang kedua adalah Ilmu Karang, merupakan ilmu pengarangan atau hasil karya mengarang. Ilmu yang mencakup adalah bahasa, sastra, matematika, fisika. Bahasa dan sastra sudah jelas. Namun, dalam matematika, fisika dan semacamnya, simbol-simbol dalam ilmu tersebut yang dikarang. Simbol penambahan, pengurangan, alfa, beta dan semacamnya sebelumnya belum ada. Harus dikarang terlebih dahulu. Setelah disepakati bersama, akhirnya jadilah ilmu-ilmu tersebut.

Ketiga adalah Ilmu Klenik, yaitu, pengetahuan yang menjelaskan hal-hal yang bersifat tersembunyi atau gaib. “Klenik” ada dalam kultur jawa dan bahasa jawa, yaitu artinya “sesuatu yang tersembunyi”. Wilayah ilmu klenik adalah wilayah misteri. Misteri bukan berarti langsung mengarah pada makhluk halus, jin, roh dan semacamnya. Ilmu yang dikategorikan misteri disini adalah ilmu-ilmu yang tidak dapat diuji kebenarannya. Kebenarannya hanya bisa dimengerti oleh orang-orang tertentu saja yang menempuh ilmu makrifat. Dan bagi orang awam hanya cukup meyakininya. Hal inilah yang disebut klenik. Namun, bukan berarti agama menyesatkan orang. Begitu pula dengan Klenik yang dimaksudkan untuk kesejahteraan bukan kedalam dunia gelap.

Lalu, soal lelaku yang menurut masyarakat agamis adalah penyembahan terhadap jin, roh dan makhluk halus. Masyarakat Kejawen mengatakan bahwa mereka tidak menyembah roh, jin dan makhluk halus tersebut sejak awal. Sikap santun orang Jawa meliputi seluruh ciptaan Tuhan. Tidak hanya kepada manusia, namun juga kepada alam dan kepada makhluk Tuhan yang tidak terlihat tersebut. Dan kemenyan dianggap sebagai wewangi ruangan, bukan pemanggil jin. Namun, masyarakat Jawa masa kini salah menafsirkan sehingga sebagian ada yang benar-benar syirik dan ditambah pula pandangan negatif dari masyarakat agamis.

Pergeseran pemahaman juga terjadi pada salah satu pola hidup Kejawen, yaitu menjaga keharmonisan dan menghormati orang lain. Dimasa sekarang ini, keharmonisan dipahami sebagai antikonflik dan menghormati orang lain dipahami secara salah menjadi rendah diri yang berlebihan dan penjilatan kepada yang lebih berkuasa. Mendeteksi masalah dan memahami sesuatu yang tidak biasa, diperlukan kepekaan. Hal itu agar masyarakat Jawa selalu mawas diri.

Ketika melakukan suatu kesalahan, orang-orang disekitarnya justru diam atau “ngalah”. Diam tersebut, bukan berarti tanpa arti. Hal itu dimaksudkan agar si pembuat kesalahan justru peka dan introspeksi diri. Cara diam ini juga berfungsi untuk memperkecil konflik yang tidak perlu. Jika tidak peka, hal itu dianggap menyakitkan menyakitkan bagi orang lain. Kemudian selanjutnya, untuk mereduksi konflik yang sudah hampir meledak dalam diri masing-masing, kemudian menghindari atau “ngalih”, agar emosi tidak merusak suasana. Kemudian jika masih belum sadar, langkah tegas diperlukan untuk itu. Namun tidak selalu dengan marah atau “ngamuk”. Disini pula banyak salah pemahaman bahwa orang Jawa itu pendiam namun pendendam. Namun memang tidak bisa dipungkiri, bahwa dibalik sifat santun dan pendiam orang Jawa, juga masih terdapat sifat kasar dan ganas. Untuk itulah Kejawen ada untuk meredam sifat tersebut.

Disini, kepekaan diperkuat dengan dilakukannya lelaku prihatin. Seperti puasa dan merasakan kesusahan hidup. Namun akhirnya muncul ritual-ritual tertentu seperti bertapa dan berbagai jenis puasa. Ritual-ritual tersebut sebenarnya merupakan asimilasi dari budaya asing. Lelaku itu sebenarnya adalah keseharian, ritual yang dilakukan secara rajin. Kepekaan diasah pula dengan mendekatkan diri kepada alam agar dapat menangkap tanda-tanda alam. Hasil mengasah kepekaan ini adalah “Ilmu titen” yang “niteni”, yaitu ilmu titen yang diteliti dengan panca indera kemudian hasil penelitian tersebut diperhatikan terus menerus. Ilmu titen diantaranya peka terhadap arah mata angin, memahami waktu tanpa bantuan jam, lalu memahami musim dan perubahan kondisi alam yang berguna untuk kegiatan bercocok tanam. Weton pun termasuk dalam ilmu titen ini karena asal muasal weton juga hasil dari kepekaan masyarakat jawa terhadap alam. Namun masa sekarang ini, weton mengalami pergeseran pemahaman menjadi Ilmu Klenik karena sekarang banyak sekali yang tidak memahami asal muasal weton ini.

Beberapa orang memberikan respon positif, Ada yang mengatakan bahwa Kejawen memang salah satu warisan budaya nusantara, lebih tepatnya Jawa yang suka atau tidak suka merupakan peninggalan nenek moyang. Ada juga sebagian masyarakat yang ber-opini bahwa menghormati pohon besar (salah satu lelaku Kejawen) bukan berarti syirik dan buruk karena bisa jadi sekelompok masyarakat tersebut sebenarnya menghargai alam dan menghargai pohon tersebut sebagai makhluk hidup. Namun, yang terlihat sekarang ini banyak yang salah menafsirkan sebagai tindakan yang syirik. Karena salah tafsir terhadap kebiasaan masa lalu itu juga menyebabkan masyarakat masa kini senang meng-keramat-kan sesuatu dan mengkait-kait kan dengan hal-hal yang mistik dan klenik. Dan banyaknya yang meninggalkan kebiasaan tersebut juga jadi faktor rusaknya alam sekarang ini. Dari opini tersebut, dapat disimpulkan bahwa selain terjadi perbedaan pemahaman dalam bidang Klenik, juga ada perbedaan pemahaman dalam pola hidup.

2.2 Weton, kebiasaan yang masih digunakan sebagian masyarakat Jawa
Sebagai bagian dari masyarakat yang lahir dan hidup didalam keluarga Jawa dan dalam kultur Jawa, tentu tidak jarang mendengar tentang weton. Secara umum, weton biasa di terapkan oleh para orang tua Jawa dalam menyikapi kelahiran, watak, kondisi tubuh seseorang dan semacamnya. Banyak juga orang-orang tua Jawa yang masih menggunakan patokan weton untuk penentu pasangan dalam pernikahan, tanggal dan hari pernikahan yang tepat, buka toko, pindah rumah dan sebagainya. Intinya Weton itu digunakan untuk meramalkan segala kegiatan dalam hidup masyarakat Jawa.

“Weton” berasal dari kata berbahasa Jawa “Wetu” yang berarti berati bermakna keluar . Lalu ditambah akhiran –an dan karena diucapkan dengan lidah Jawa menjadi “Weton”. Weton adalah gabungan antara hari dan pasaran Jawa saat lahir didunia. Jadi intinya adalah hari dan pasaran Jawa yang bertepatan dengan hari lahirnya seorang bayi. Dan hari dan pasaran itu ada keterkaitannya dengan kondisi alam semesta sehingga berpengaruh pada manusia khususnya bayi yang lahir pada waktu tersebut.

Weton, perhitungannya diambil dari penanggalan Jawa yang berdasarkan perhitungan bulan. Perhitungan tersebut diawali dengan pemahaman fenomena alam. Dan menurut pandangan masyarakat Jawa masa lalu pergerakan alam memiliki rahasia yang akan mencerminkan watak tersendiri. Pergerakan alam itu meliputi pergerakan bumi dan bulan. Siklus pergerakan tersebut tentu saja melibatkan waktu dan hari. Siklus tersebut menimbulkan berbagai fenomena alam. Fenomena alam yang terjadi akan membawa dampak dan pengaruh bagi penghuni alam khususnya manusia.

Kendala yang didapat oleh masyarakat Jawa dalam penanggalan Jawa adalah sulitnya menentukan jumlah hari dalam seminggu. Penentuan jumlah hari dalam seminggu ini mengalami perbedaan pendapat. Mengapa dalam 1 minggu ada 7 hari? Sulit sekali menjawab pertanyaan tersebut. Banyak teori yang bermacam-macam untuk menentukan jumlah hari dalam seminggu ini. Ada yang berdasar pada ajaran agama, mitos dewa-dewa dan teori geometri dan sebagainya. Akhirnya, masyarakat Jawa mengenal 10 macam minggu. Dari seminggu yang berjumlah satu hari hingga sepulu hari. Namun sekarang masyarakat Jawa mengenal dua jenis minggu, yaitu Pancawara (pasaran) dan Saptawara (Padinan). Pancawara tetap digunakan karena tetap dipakai karena sejumlah pasaran jawa yang berjumlah lima, yaitu Legi, Paing, Pon, Legi dan Kliwon. Dan Saptawara tetap digunakan karena sifatnya universal. Namanya pun sama seperti hari-hari yang digunakan sekarang. Namun sebenarnya, saptawara saat itu digunakan lebih karena pengaruh asimilasi budaya asing khususnya islam.

Pancawara (Legi, Paing, Pon, Legi dan Kiwon) disebut pasaran pada jaman dulu salah satu sistem pemerataan ekonomi rakyat diatur dengan pembagian tempat jual beli (pasar). Pembagian tersebut ada di lima titik tempat yang sesuai arah mata angin (Timur, Selatan, Barat, Utara dan Tengah). Pasar Legi berada di timur, pasar pahing di selatan, pasar pon di barat, pasar wage di utara, pasar kliwon berada di pusat atau tengah kota. Pasar ini buka secara bergantian mengikuti siklus pancawara. Kemudian mingguan saptawara, menggunakan seminggu tujuh hari dan menggunakan nama-nama yang hingga sekarang digunakan. Nama-nama ini terbentuk karena hasil perpaduan kebudayaan islam dan kebudayaan Jawa. Karena kebudayaan Jawa dan Islam sama-sama menggunakan kalender lunar, makan weton pun memakai sistem lunar, dan perhitungan dimulai saat maghrib. Karena itu, dalam keseharian, misalnya malam Sabtu disebut malam Minggu. Dan malam Minggu disebut malam Senin dst.

Baik pancawara maupun saptawara dan pancawara, juga disimbolkan dengan elemen oleh masyarakat Jawa. Pancawara: Wage yang berada di arah mata angin utara disimbolkan dengan tanah yang memancarkan sinar hitam. Legi berada di timur disimbolkan dengan udara yang memancarkan sinar putih. Kliwon berada di tengah atau pusat (pancer) disimbolkan dengan eter yang memancarkan sinar manca warna. Pon berada di barat disimbolkan dengan air yang memancarkan sinar kuning. Pahing berada di selatan, disimbolkan dengan api yang memancarkan sinar merah. Elemen-elemen dalam pancawara itu didasarkan pada salah satu Kawruh Kejawen yaitu “Sedulur papat, kalima pancer” yaitu proses kelahiran manusia dari rahim ke dunia menurut falsafah Kejawen. Saptawara: Minggu disimbolkan matahari, Senin disimbolkan bulan, Selasa disimbolkan api, rabu disimbolkan bumi, kamis disimbolkan angin, jumat disimbolkan bintang, dan sabtu disimbolkan air. Simbol-simbol yang disebutkan tadi juga nantinya digunakan dalam perumusan weton jawa.

Hari dan pasaran selain disimbolkan dengan elemen, juga disimbolkan dengan angka atau disebut “Neptu”. Angka itu juga berperan dalam penghitungan weton. Dan gabungan elemen pasaran dengan hari juga melahirkan watak atau karakteristik yang juga berperan dalam penghitungan weton. Jadi, elemen dan angka didalam gabungan hari dan pasaran itulah yang menjadi rumus penghitungan weton. Kesimpulannya, weton terlahir dari hasil kepekaan masyarakat Jawa masa lalu terhadap tanda-tanda alam dan penghitungan. Sehingga, sebetulnya weton bukan Ilmu Klenik.

Persepsi masyarakat masa kini terhadap weton bermacam-macam. Namun intinya, weton diidentikkan dengan tahayul, mistik, mitos, kepercayaan dan sekedar ramalan. Hampir tidak ada yang tahu sebab musababnya maupun asal-usulnya. Ketika para orang tua ditanya sebab dan asal-usulnya, jawaban yang mereka berikan pun tidak jelas dan terkesan sudah menjadi doktrin. Akhirnya, weton menjadi masuk ke wilayah Ilmu klenik. Begitulah menurut masyarakat yang masih memahami Kejawen.



2.3 Poin-poin Falsafah Hidup Menurut Kejawen
Poin-poin ini adalah poin-poin falsafah hidup kejawen. Poin-poin ini menyangkut prinsip ketuhanan, kebatinan dan filsafat kemanusiaan menurut Kejawen.

Berikut adalah poin-poin falsafah hidup menurut Kejawen yang saya kutip dari http://sabdalangit.wordpress.com/:
Ketuhanan
1. Pangeran iku siji, ana ing ngendi papan langgeng, sing nganakake jagad iki saisine, dadi sesembahane wong sak alam kabeh, nganggo carane dhewe-dhewe. (Tuhan itu tunggal, ada di mana-mana, yang menciptakan jagad raya seisinya, disembah seluruh manusia sejagad dengan caranya masing-masing)
2. Pangeran iku ana ing ngendi papan, aneng siro uga ana pangeran, nanging aja siro wani ngaku pangeran. (Tuhan ada di mana saja, di dalam dirimu juga ada, namun kamu jangan berani mengaku sebagai Tuhan)
3. Pangeran iku adoh tanpa wangenan, cedhak tanpa senggolan. (Tuhan itu berada jauh namun tidak ada jarak, dekat tidak bersentuhan)
4. Pangeran iku langgeng, tan kena kinaya ngapa, sangkan paraning dumadi. (Tuhan itu abadi dan tak bisa diperumpamakan, menjadi asal dan tujuan kehidupan)
5. Pangeran iku bisa mawujud, nanging wewujudan iku dudu Pangeran. (Tuhan itu bisa mewujud namun perwujudannya bukan Tuhan)
6. Pangeran iku kuwasa tanpa piranti, akarya alam saisine, kang katon lan kang ora kasat mata. (Tuhan berkuasa tanpa alat dan pembantu, mencipta alam dan seluruh isinya, yang tampak dan tidak tampak)
7. Pangeran iku ora mbedak-mbedakake kawulane. (Tuhan itu tidak membeda-bedakan (pilih kasih) kepada seluruh umat manusia)
8. Pangeran iku maha welas lan maha asih, hayuning bawana marga saka kanugrahaning Pangeran. (Tuhan Maha Belas-Kasih, bumi terpelihara berkat anugrah Tuhan)
9. Pangeran iku maha kuwasa, pepesthen saka karsaning Pangeran ora ana sing bisa murungake. (Tuhan itu Mahakuasa, takdir ditentukan atas kehendak Tuhan, tiada yang bisa membatalkan kehendak Tuhan)
10. Urip iku saka Pangeran, bali marang Pangeran. (Kehidupan berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan)
11. Pangeran iku ora sare. (Tuhan tidak pernah tidur)
12. Beda-beda pandumaning dumadi. (Tuhan membagi anugrah yang berbeda-beda)
13. Pasrah marang Pangeran iku ora ateges ora gelem nyambut gawe, nanging percaya yen Pangeran iku maha Kuwasa. Dene kasil orane apa kang kita tuju kuwi saka karsaning Pangeran. (Pasrah kepada Tuhan bukan berarti enggan bekerja, namun percaya bahwa Tuhan Menentukan)
14. Pangeran nitahake sira iku lantaran biyung ira, mulo kudu ngurmat biyung ira. (Tuhan mencipta manusia dengan media ibumu, oleh sebab itu hormatilah ibumu)
15. Sing bisa dadi utusaning Pangeran iku ora mung jalma manungsa wae. (Yang bisa menjadi utusan Tuhan bukan hanya manusia saja)
16. Purwa madya wasana. (zaman awal/ sunyaruri, zaman tengah/ mercapada, zaman akhir/ keabadian)
17. Owah gingsiring kahanan iku saka karsaning Pangeran kang murbeng jagad. (Berubahnya keadaan itu atas kehendak Tuhan yang mencipta alam)
18. Ora ana kasekten sing madhani pepesthen awit pepesthen iku wis ora ana sing bisa murungake. (Tak ada kesaktian yang menyamai takdir Tuhan, sebab takdir itu tidak ada yang bisa membatalkan)
19. Bener kang asale saka Pangeran iku lamun ora darbe sipat angkara murka lan seneng gawe sangsaraning liyan. (Bener yang menurut Tuhan itu bila tidak memiliki sifat angkara murka dan gemar membuat kesengsaraan orang lain)
20. Ing donya iki ana rong warna sing diarani bener, yakuwi bener mungguhing Pangeran lan bener saka kang lagi kuwasa. (Kebenaran di dunia ada dua macam, yakni benar menurut Tuhan dan benar menurut penguasa)
21. Bener saka kang lagi kuwasa iku uga ana rong warna, yakuwi kang cocok karo benering Pangeran lan kang ora cocok karo benering Pangeran. (Benar menurut penguasa juga memiliki dua macam jenis yakni cocok dengan kebenaran menurut Tuhan dan tidak cocok dengan kebenaran Tuhan)
22. Yen cocok karo benering Pangeran iku ateges bathara ngejawantah, nanging yen ora cocok karo benering Pangeran iku ateges titisaning brahala. (Kebenaran yang sesuai dengan kebenaran menurut Tuhan, itu berarti tuhan yang mewujud, namun bila tidak sesuai dengan kebenaran menurut Tuhan, berarti penjelmaan angkara)
23. Pangeran iku dudu dewa utawa manungsa, nanging sakabehing kang ana iki uga dewa lan manungsa asale saka Pangeran. (Tuhan itu bukan dewa atau manusia, namun segala yang ada (dewa dan manusia) adanya berasal dari Tuhan.
24. Ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pangeran. (Keburukan dan kebaikan merupakan satu kesatuan, semua itu sudah menjadi rumus/kehendak Tuhan)
25. Manungsa iku saka dating Pangeran mula uga darbe sipating Pangeran. (Manusia berasal dari zat Tuhan, maka manusia memiliki sifat-sifat Tuhan)
26. Pangeran iku ora ana sing Padha, mula aja nggambar-nggambarake wujuding Pangeran. (Tidak ada yang menyerupai Tuhan, maka janganlah melukiskan dan menggambarkan wujud tuhan)
27. Pangeran iku kuwasa tanpa piranti, mula saka kuwi aja darbe pangira yen manungsa iku bisa dadi wakiling Pangeran. (Tuhan berkuasa tanpa perlu pembantu, maka jangan menganggap manusia menjadi wakil Tuhan di bumi)
28. Pangeran iku kuwasa, dene manungsa iku bisa. (Tuhan itu Mahakuasa, sementara itu manusia hanyalah bisa)
29. Pangeran iku bisa ngowahi kahanan apa wae tan kena kinaya ngapa. (Tuhan mampu merubah keadaan apa saja tanpa bisa dibayangkan/perumpamakan)
30. Pangeran bisa ngrusak kahanan kang wis ora diperlokake, lan bisa gawe kahanan anyar kang diperlokake. (Tuhan mampu merusak keadaan yang tidak diperlukan lagi, dan bisa membuat keadaan baru yang diperlukan)
31. Watu kayu iku darbe dating Pangeran, nanging dudu Pangeran. (Batu dan kayu adalah milik zat Tuhan, namun bukanlah Tuhan)
32. Manungsa iku bisa kadunungan dating Pangeran, nanging aja darbe pangira yen manungsa mau bisa diarani Pangeran. (Di dalam manusia dapat bersemayam zat tuhan, akan tetapi jangan merasa bila manusia boleh disebut Tuhan)
33. Titah alus lan titah kasat mata iku kabeh saka Pangeran, mula aja nyembah titah alus nanging aja ngina titah alus. (Makhluk halus dan makhluk kasar/wadag semuanya berasal dari tuhan, maka dari itu jangan menyembah makhluk halus, namun juga jangan menghina makluk halus)
34. Samubarang kang katon iki kalebu titah kang kasat mata, dene liyane kalebu titah alus. (Semua yang tampak oleh mata termasuk makhluk kasat mata, sedangkan lainnya termasuk makhluk halus)
35. Pangeran iku menangake manungsa senajan kaya ngapa. (Tuhan memenangkan manusia walaupun seperti apa manusia itu)
36. Pangeran maringi kawruh marang manungsa bab anane titah alus mau. (Tuhan memberikan pengetahuan kepada manusia tentang eksistensi makhluk halus)
37. Titah alus iku ora bisa dadi manungsa lamun manungsa dhewe ora darbe penyuwun marang Pangeran supaya titah alus mau ngejawantah. (Makhluk halus tidak bisa menjadi manusia bila manusia tidak punya permohonan kepada Tuhan agar makhluk halus menampakkan diri)
38. Sing sapa wani ngowahi kahanan kang lagi ana, iku dudu sadhengah wong, nanging minangka utusaning Pangeran. (Siapa yang berani merubah keadaan yang terjadi, bukanlah sembarang orang, namun sebagai “utusan” tuhan)
39. Sing sapa gelem nglakoni kabecikan lan ugo gelem lelaku, ing tembe bakal tampa kanugrahaning Pangeran. (Siapa saja yang bersedia melaksanakan kebaikan dan juga mau “lelaku” prihatin, kelak akan memperoleh anugrah tuhan)
40. Sing sapa durung ngerti lamun piyandel iku kanggo pathokaning urip, iku sejatine durung ngerti lamun ana ing donyo iki ono sing ngatur. (siapa yang belum paham, lalu menganggap sipat kandel itu sebagai rambu-rambu hidup, yang demikian itu sesungguhnya belum memahami bila di dunia ini ada yang mengatur)
41. Sakabehing ngelmu iku asale saka Pangeran kang Mahakuwasa. (Semua ilmu berasal dari Tuhan yang Mahakuasa)
42. Sing sapa mikani anane Pangeran, kalebu urip kang sempurna. (Siapa yang mengetahui adanya Tuhan, termasuk hidup dalam kesempurnaan).

Kebatinan
1. Dumadining sira iku lantaran anane bapa biyung ira. (Lahirnya manusia karena berkat adanya kedua orang tua)
2. Manungsa iku kanggonan sipating Pangeran. (Di dalam manusia tedapat sifat-sifat Tuhan)
3. Titah alus iku ana patang warna, yakuwi kang bisa mrentah manungsa nanging ya bisa mitulungi manungsa, kapindho kang bisa mrentah manungsa nanging ora mitulungi manungsa, katelu kang ora bisa mrentah manungsa nanging bisa mitulungi manungsa, kapat kang ora bisa mrentah manungsa nanging ya ora bisa mrentah manungsa.
(Makhluk halus ada empat macam, pertama ; yang bisa memerintah manusia namun bisa juga menolong manusia. Kedua; yang bisa memerintah manusia namun tidak bisa menolong manusia. Ketiga ; yang tidak bisa memerintah manusia namun bisa menolong manusia. Keempat ; yang tidak bisa memerintah anusia namun juga tak bisa diperintah manusia.
4. Lelembut iku ana rong warna, yakuwi kang nyilakani lan kang mitulungi. (Makhluk halus ada dua macam; yang mencelakai dan yang menolong)
5. Guru sejati bisa nuduhake endi lelembut sing mitulungi lan endi lelembut kang nyilakani. (Guru Sejati bisa memberikan petunjuk mana makhluk halus yang bisa menolong dan mana yang mencelakakan)
6. Ketemu Gusti iku lamun sira tansah eling. (“Bertemu” Tuhan dapat dicapai dengan cara selalu eling)
7. Cakra manggilingan. (Kehidupan manusia akan seperti roda yang selalu berputar, kadang di bawah kadang di atas. Hukum sebab akibat dan memungkinkan terjadi penitisan)
8. Jaman iku owah gingsir. (Zaman akan selalu mengalami perubahan)
9. Gusti iku dumunung ana atining manungsa kang becik, mulo iku diarani Gusti iku bagusing ati. (Tuhan berada di dalam hati manusia yang baik, oleh sebab itu disebut Gusti (bagusing ati)
10. Sing sapa nyumurupi dating Pangeran iku ateges nyumurupi awake dhewe. Dene kang durung mikani awake dhewe durung mikani dating Pangeran. (Siapa yang mengetahui zat Tuhan berarti mengetahui dirinya sendiri. Sedangkan bagi yang belum memahami jati dirinya sendiri maka tidak mengetahui pula zat Tuhan)
11. Kahanan donya ora langgeng, mula aja ngegungake kesugihan lan drajat ira, awit samangsa ana wolak-waliking jaman ora ngisin-ngisini. (Keadaan dunia tidaklah abadi, maka jangan mengagungkan kekayaan dan derajat pangkat, sebab bila sewaktu-waktu terjadi zaman serba berbalik tidak menderita malu)
12. Kahanan kang ana iki ora suwe mesthi ngalami owah gingsir, mula aja lali marang sapadha-padhaning tumitah. (Keadaan yang ada sekarang ini tidak akan berlangsung lama pasti akan mengalami perubahan, maka dari itu janganlah lupa kepada sesama makhluk hidup ciptaan Tuhan)
13. Lamun sira kepengin wikan marang alam jaman kelanggengan, sira kudu weruh alamira pribadi. Lamun sira durung mikan alamira pribadi adoh ketemune. (Bila kamu ingin mengetahui alam di zaman kelanggengan. Kamu harus memahami alam jati diri (jagad alit), bila kamu belum paham jati dirimu, maka akan sulit untuk menemukan (alam kelanggengan)
14. Yen sira wus mikani alamira pribadi, mara sira mulanga marang wong kang durung wikan. (Jika kamu sudah memahami jati diri, maka ajarilah orang-orang yang belum memahami)
15. Lamun sira wus mikani alamira pribadi, alam jaman kelanggengan iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan. (Bila kamu sudah mengetahui sejatinya diri pribadi, tempat zaman kelanggengan itu seumpama dekat tanpa bersentuhan, jauh tanpa jarak)
16. Lamun sira durung wikan alamira pribadi mara takono marang wong kang wus wikan. (Bila anda belum paham jati diri pribadi, datang dan tanyakan kepada orang yang telah paham)
17. Lamun sira durung wikan kadangira pribadi, coba dulunen sira pribadi. (Bila anda belum paham saudaramu yang sejati, carilah hingga ketemu dirimu pribadi)
18. Kadangira pribadi ora beda karo jeneng sira pribadi, gelem nyambut gawe. (“Saudara sejati” mu tidak berbeda dengan diri pribadimu, bersedia bekerja)
19. Gusti iku sambaten naliko sira lagi nandang kasangsaran. Pujinen yen sira lagi nampa kanugrahaning Gusti. (Pintalah Tuhan bila anda sedang menderita kesengsaraan, pujilah bila anda sedang menerima anugrah)
20. Lamun sira pribadi wus bisa caturan karo lelembut, mesthi sira ora bakal ngala-ala marang wong kang wus bisa caturan karo lelembut. (Bila anda sudah bisa bercakap-cakap dengan makhluk halus, pasti anda tidak akan menghina dan mencela orang yang sudah bisa bercakap-cakap dengan makhluk halus)
21. Sing sapa nyembah lelembut iku keliru, jalaran lelembut iku sejatine rowangira, lan ora perlu disembah kaya dene manembah marang Pangeran. (Siapa yang menyembah lelembut adalah tindakan keliru, sebab lelembut sesungguhnya teman mu sendiri)
22. Weruh marang Pangeran iku ateges wis weruh marang awake dhewe, lamun durung weruh awake dhewe, tangeh lamun weruh marang Pangeran. (Memahami tuhan berarti sudah memahami diri sendiri, jika belum memahami jati diri, mustahil akan memahami Tuhan)
23. Sing sapa seneng ngrusak katentremane liyan bakal dibendu dening Pangeran lan diwelehake dening tumindake dhewe. (Siapa yang gemar merusak ketentraman orang lain, pasti akan dihukum oleh Tuhan dan dipermalukan oleh perbuatannya sendiri)
24. Lamun ana janma ora kepenak, sira aja lali nyuwun pangapura marang Pangeranira, jalaran Pangeranira bakal aweh pitulungan. (Walaupun mengalami zaman susah, namun janganlah lupa mohon ampunan kepada Tuhan, sebab Tuhan akan memberikan pertolongan)
25. Gusti iku dumunung ana jeneng sira pribadi, dene ketemune Gusti lamun sira tansah eling. (Tuhan ada di dalam diri pribadi, dapat anda ketemukan dengan cara selalu eling)

Filsafat Kemanusiaan
1. Rame ing gawe sepi ing pamrih, memayu hayuning bawana. (Giat bekerja/membantu dengan tanpa pamrih, memelihara alam semesta /mengendalikan nafsu)
2. Manungsa sadrema nglakoni, kadya wayang umpamane. (Manusia sekedar menjalani apa adanya, seumpama wayang)
3. Ati suci marganing rahayu. (Hati yang suci menjadi jalan menuju keselamatan jiwa dan raga)
4. Ngelmu kang nyata, karya reseping ati. (Ilmu yang sejati, membuat tenteram di hati)
5. Ngudi laku utama kanthi sentosa ing budi. (Menghayati perilaku mulia dengan budi pekerti luhur)
6. Jer basuki mawa beya. (Setiap usaha memerlukan beaya)
7. Ala lan becik dumunung ana awake dhewe. (Kejahatan dan kebaikan terletak di dalam diri pribadi)
8. Sing sapa lali marang kebecikaning liyan, iku kaya kewan. (Siapa yang lupa akan amal baik orang lain, bagaikan binatang)
9. Titikane aluhur, alusing solah tingkah budi bahasane lan legawaning ati, darbe sipat berbudi bawaleksana. (Ciri khas orang mulia yakni, perbuatan dan sikap batinnya halus , tutur kata yang santun, lapang dada, dan mempunyai sikap wibawa luhur budi pekertinya)
10. Ngunduh wohing pakarti. (Orang dapat menerima akibat dari ulahnya sendiri)
11. Ajining dhiri saka lathi lan budi. (Berharganya diri pribadi tergantung ucapan dan akhlaknya)
12. Sing sapa weruh sadurunge winarah lan diakoni sepadha-padhaning tumitah iku kalebu utusaning Pangeran. (Siapa yang mengetahui sebelum terjadi dan diakui sesama manusia, ia termasuk utusan tuhan)
13. Sing sapa durung wikan anane jaman kelanggengan iku, aja ngaku dadi janma linuwih. (Siapa yang belum paham adanya zaman keabadian, jangan mengaku menjadi orang linuwih)
14. Tentrem iku saranane urip aneng donya. (Ketenteraman adalah sarana menjalani kehidupan di dunia)
15. Yitna yuwana lena kena. (Eling waspdha akan selamat, yang lengah akan celaka)
16. Ala ketara becik ketitik. (Yang jahat maupun yang baik pasti akan terungkap juga)
17. Dalane waskitha saka niteni. (Cara agar menjadi awas, adalah berawal dari sikap cermat dan teliti)
18. Janma tan kena kinira kinaya ngapa. (Manusia sulit diduga dan dikira)
19. Tumrap wong lumuh lan keset iku prasasat wisa, pangan kang ora bisa ajur iku kena diarani wisa, jalaran mung bakal nuwuhake lelara. (Bagi manusia, fakir dan malas menjadi bisa/racun, makanan yang tak bisa hancur dapat disebut sebagai bisa/racun, sebab hanya akan menimbulkan penyakit)
20. Klabang iku wisane ana ing sirah. Kalajengking iku wisane mung ana pucuk buntut. Yen ula mung dumunung ana ula kang duwe wisa. Nanging durjana wisane dumunung ana ing sekujur badan. (Racun bisa Lipan terletak di kepala, racun bisa kalajengking ada di ujung ekor, racun bisa ular hanya ada pada ular yang berbisa, namun manusia durjana racun bisanya ada di sekujur badan)
21. Geni murub iku panase ngluwihi panase srengenge, ewa dene umpama ditikelake loro, isih kalah panas tinimbang guneme durjana. (Nyala api panasnya melebihi panas matahari, namun demikian umpama panas dilipatgandakan, masih kalah panas daripada ucapan orang durjana)
22. Tumprape wong linuwih tansah ngundi keslametaning liyan, metu saka atine dhewe. (Bagi orang linuwih selalu berupaya menjaga keselamatan untuk sesama, yang keluar dari niat suci diri pribadi)
23. Pangucap iku bisa dadi jalaran kebecikan. Pangucap uga dadi jalaraning pati, kesangsaran, pamitran. Pangucap uga dadi jalaraning wirang. (Ucapan itu dapat menjadi sarana kebaikan, sebaliknya ucapan bisa pula menyebabkan kematian, kesengsaraan. Ucapan bisa menjadi penyebab menanggung malu)
24. Sing bisa gawe mendem iku: 1) rupa endah; 2) bandha, 3) dharah luhur; 4) enom umure. Arak lan kekenthelan uga gawe mendem sadhengah wong. Yen ana wong sugih, endah warnane, akeh kapinterane, tumpuk-tumpuk bandhane, luhur dharah lan isih enom umure, mangka ora mendem, yakuwi aran wong linuwih. (Penyebab orang menjadi lupa diri adalah : gemerlap hidup, harta, kehormatan, darah muda. Arak dan minuman juga membuat mabuk sementara orang. Namun bila ada orang kaya, tampan rupawan, banyak kepandaiannya, hartanya melimpah, terhormat, dan masih muda usia, namun semua itu tidak membuat lupa diri, itulah orang linuwih)
25. Sing sapa lena bakal cilaka. (Siapa terlena akan celaka)
26. Mulat salira, tansah eling kalawan waspada. (Jadi orang harus selalu mawas diri, eling dan waspadha)
27. Andhap asor. (Bersikap sopan dan santun)
28. Sakbegja-begjane kang lali luwih begja kang eling klawan waspada. (Seberuntungnya orang lupa diri, masih lebih beruntung orang yang eling dan waspadha)
29. Sing sapa salah seleh. (Siapapun yang bersalah akan menanggung celaka)
30. Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. (Bertanding tanpa bala bantuan)
31. Sugih ora nyimpen. (Orang kaya namun dermawan)
32. Sekti tanpa maguru. (Sakti tanpa berguru, alias dengan menjalani laku prihatin yang panjang)
33. Menang tanpa ngasorake. (Menang tanpa menghina)
34. Rawe-rawe rantas malang-malang putung. (Yang mengganggu akan lebur, yang menghalangi akan hancur)
35. Mumpung anom ngudiya laku utama. (Selagi muda berusahalah selalu berbuat baik)
36. Yen sira dibeciki ing liyan, tulisen ing watu, supaya ora ilang lan tansah kelingan. Yen sira gawe kebecikan marang liyan tulisen ing lemah, supaya enggal ilang lan ora kelingan. (Jika kamu menerima kebaikan orang lain, tulislah di atas batu supaya tidak hilang dari ingatan. Namun bila kamu berbuat baik kepada orang lain hendaknya ditulis di atas tanah, supaya segera hilang dari ingatan)
37. Sing sapa temen tinemu. (Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)
38. Melik nggendhong lali. (Pamrih menyebabkan lupa diri)
39. Kudu sentosa ing budi. (Harus selamat ke dalam jiwa)
40. Sing prasaja. (Menjadi orang harus bersikap sabar)
41. Balilu tau pinter durung nglakoni. (Orang bodoh yang sering mempraktekan, kalah pandai dengan orang pinter namun belum pernah mempraktekan)
42. Tumindak kanthi duga lan prayogo. (Bertindak dengan penuh hati-hati dan teliti/tidak sembrono)
43. Percaya marang dhiri pribadi. (Bersikaplah percaya diri)
44. Nandur kebecikan. (Tanamlah selalu kebaikan)
45. Janma linuwih iku bisa nyumurupi anane jaman kelanggengan tanpa ngalami pralaya dhisik. (Manusia linuwih adalah dapat mengetahui adanya zaman keabadian tanpa harus mati lebih dulu)
46. Sapa kang mung ngakoni barang kang kasat mata wae, iku durung weruh jatining Pangeran. (Siapa yang hanya mengakui hal-hal kasat mata saja, itulah orang yang belum memahami sejatinya Tuhan)
47. Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking. (Bila anda mendapat anugrah ilmu yang membuat banyak orang senang, janganlah kamu merasa pintar, sebab apabila Tuhan mengambil lagi ilmu yang menyebabkan anda terkenal itu, anda akan menjadi orang biasa lagi, malah lebih bermanfaat daun yang kering)
48. Sing sapa gelem gawe seneng marang liyan, iku bakal oleh wales kang luwih gedhe katimbang apa kang wis ditindakake. (Barang siapa gemar membuat orang lain bahagia, anda akan mendapatkankan balasan yang lebih besar dari apa yang telah anda lakukan)

Itulah poin-poin falsafah hidup Kejawen. Dapat dilihat disana bahwa Kejawen bukan merupakan suatu agama melainkan hanya pola hidup orang Jawa saja. Sifatnya fleksibel dan tidak ada aturan yang mengikat. Akibat dari tidak mengindahkan poin-poin diatas adalah reaksi alam dan masyarakat sekitar terhadap individu tersebut, bukan dosa atau azab Tuhan.


BAB III
KESIMPULAN

Kesimpulan dari pembahasan diatas adalah:
1. Kejawen bukanlah agama, Kejawen lebih pada kebudayaan, falsafah hidup dan pola kehidupan masyarakat Jawa. Namun, masih banyak masyarakat khusus nya masyarakat Jawa sendiri yang tidak memahami betul Kejawen sehingga Kejawen mulai luntur dalam masyarakat Jawa masa kini.

2. Weton adalah perhitungan Jawa untuk meramalkan setiap kegiatan masyarakat Jawa yang terlahir dari kepekaan masyarakat Jawa masa lalu terhadap tanda-tanda alam. Tanda-tanda alam itu kemudian disusun menjadi sebuah perhitungan karena masyarakat Jawa percaya bahwa fenomena alam mempengaruhi makhluk hidup terutama manusia. Sehingga weton bukan termasuk dalam ilmu Klenik. Namun, dimasa sekarang ini banyak yang beranggapan bahwa Weton termasuk klenik dan tahayul.

3. Poin-poin falsafah hidup menurut Kejawen jelas bersifat universal, fleksibel, bukan merupakan aturan, hanya “wanti-wanti” atau poin-poin yang perlu diwaspadai dan tidak ada paksaan dalam menjalankan falsafah ini. Sangat berbeda dengan aturan agama yang harus menjalankannya karena merupakan bagian dari ibadah. Akibat dari tidak mengindahkan poin-poin tersebut bukan dosa atau azab Tuhan, melainkan reaksi alam dan masyarakat sekitar terhadap individu tersebut.





DAFTAR PUSTAKA

http://sabdalangit.wordpress.com/2009/05/19/falsafah-hidup-kejawen/
http://odydasa.wordpress.com/
http://rasasejati.wordpress.com/
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5901108
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4892886
http://nglengkong.blogspot.com/2011/01/agama-sebagai-produk-budaya.html

2 comments:

Anonymous said...

thanks infonya

Anonymous said...

njenengan sebar malih kemawon,,kathah tiyang jowo ingkang sampun supe marang falsafah urip e,,marahi urip ora adem ayem...