Sunday, 9 January 2011

Story from others - Pemilik kursi roda di lantai 3

Note: Ini bukan kisahku, ini kisah yang kudengar dari dan tentang orang lain. Tentang org yang diberi kekurangan dan keterbatasan fisik namun terus berusaha untuk seperti yg lainnya.


Sebenarnya, cerita ini ingin kuceritakan waktu hari pertama aku masuk kuliah setelah kecelakaan. Tapi tampaknya baru sempat sekarang. Bahkan aku hampir lupa... XDD
Inget gara-gara ketemu lagi sama bapak pegawai fakultas yang sempat ngobrol denganku dan nurul waktu hari pertama aku masuk itu.


Berawal dari pertanyaan Nurul pada bapak pegawai fakultas yang mendekatiku karena melihat kakiku yang diperban dan sepasang tongkat yang aku bawa-bawa. Ia menanyakan "apa fakultas bisa minjemin kursi roda di lantai 3?" biar aku nggak capek jalan pake tongkat itu. Bapaknya jawab nggak punya.
"Dulu itu ada yang pake kursi roda itu siapa pak?" Mungkin aja bisa dipinjem, kan dia udah sembuh. Begitu pikir kita awalnya.
"Oo...dia udah lulus mbak." Kata bpk itu, membuat kami berdua heran. Kok cepet ya? Perasaan kita baru ngelihat dia beberapa kali aja, pikirku.
"Dia anak sasing. Tepat 3,5 tahun dia lulus." kata bpk itu lagi dengan senyum bangga.
"Oh... Dia knp kok pake kursi roda pak? Kecelakaan?" Tanyaku.
"Enggak mbak, dia memang badannya sudah cacat sejak lahir."
"Lho?? Berarti sejak awal kuliah dia sudah pake kursi pak??"
"Iya. 3,5 tahun kuliah disini, dia pake kursi roda ."
"Trus, gimana caranya dia naik ke lt 3?"
"Ya digendong...sama supirnya. Trus dia disini terus sampe supirnya njemput lagi."
"Hoo..." jawab kami berdua.
Aku berpikir, apa dia nggak bosan ya? Apa yg dipikirkannya ketika ia melihat org2 naik turun tangga dengan mudahnya?
Apa dia pernah ke mall?  Pernah nggak dia pergi ke kantin kampus?
Well... org memang tidak merindukan sesuatu yang belum pernah dilihatnya... Namun tidak mungkin tidak ingin tahu sesuatu yang didengarnya dari yang lain...

"Tapi untung ya pak, dia bisa lulus hanya dalam waktu 3,5 tahun..." Kataku, baru kembali dari lamunanku.
"Iya mbak, justru orang normal malah susah lulusnya..."
Kalau dipikir-pikir, benar juga ya... kebanyakan orang normal sibuk atau disibukkan dengan banyak hal lain.

"Awalnya dia sempat mutung mbak. Nggak ada teman yg mau berteman sama dia. Udah hampir keluar, nggak mau kuliah. Tapi lama-lama akhirnya dia punya teman ngumpul." Cerita bapaknya.
"Kalau nulis dia kelihatannya lambat. Seperti susah gitu nulisnya. Tapi ternyata waktu ujian dia malah selesai lebih dahulu." kata si bapak lagi sambil menerawang, tampaknya mengingat-ingat kalau pas dia lagi jaga ujian.

Wah...pasti berat saat dia harus sendirian gitu...pikirku. Tapi hebat sekali, meskipun dengan keterbatasan yg teramat sangat, dia tetap berusaha setara dengan yang lain. Selalu berusaha bahwa dia juga bisa kuliah normal seperti yg lain walaupun dalam urusan berjalan dia masih membutuhkan bantuan.

No comments: