Sunday, 19 December 2010

Between Tragedy part 1 - It truly happen...

Note: Tragedy, a bit comedy


Kamis, 16 desember 2010.
Lagi-lagi aku mengulang tragedi. Lagi-lagi aku mengalami kecelakaan. Namun kali ini parah... Hanya penyesalan serta rasa sakit yang amat sangat yang bisa kurasakan saat itu...
Shock melihat kaki ku yg mengerikan setelah ditabrak. Berdarah, kukuku lepas...aku nggak percaya kalau itu kakiku... warna darah nya betul-betul merah...semerah sarung Bali yang kubeli di Tanah Lot...

******************

Aku dibawa ke rumah sakit depan kampus. Disana aku tersiksa, aku nggak segera ditangani. Ditambah lagi ada orang teriak-teriak seolah mau mati dengan meninggalkan banyak dosa disebelah...
Mentalku sempet down, aku nggak bisa segera tenang...
Apalagi ini pertama kali nya aku sakit parah kayak gini dan pertama kali nya mendapat perawatan di rumah sakit.

Yang bisa kulakuin cuma nangis sambil menatap langit-langit rumah sakit yang lusuh... Aku nggak ngerti hal lain selain nangis bertahan oleh rasa sakit yang teramat sangat... sambil nggelayuti Dina, adik kelasku.
Ingin rasanya kakiku segera nggak kerasa sakit lagi...
Sungguh childish & lebay... aku tahu... Tapi serius, kakiku bener-bener sakit...sakit...sakit...nggak bisa kutahan lagi... Gimanapun aku nahan nangis tetep nggak bisa... badanku juga gemetaran....
"Mas! Gimana nih?! Cepetan, sakit banget!" Aku memanggil dengan sebal laki-laki berekspresi cemberut berseragam biru aqua, salah satu pegawai rumah sakit sambil menunjuk kakiku yang berdarah-darah. Baru itu yang aku tahu soal orang itu.
"Ya tenang dulu mbak....kalau tenang baru diperiksa..." Jawabnya dengan dingin seperti mengomentari orang yang mengeluh karena nggak sabar nunggu jemputan >.<

Sampai akhirnya aku keluar dari bangsal berisik itu menuju ruangan bertuliskan "X-Ray". Disitu aku masih tetep aja nangis. Antara sakit dan jengkel. Bapak-bapak disana kayak nggak ngerti gimana sakitnya kakiku. Kakiku difoto dibolak balik... Aku hanya bisa nangis bernada kesal sambil melirik marah mas nya yang dingin itu...

Setiap aku ngeluarin keluhan secara nggak sengaja, dia selalu aja ngasih jawaban singkat, "Iya mbak, tahu. Kalau nggak sakit ya nggak ke rumah sakit, mbak..." Masih dengan nada nggak penting dengan tampang yang masih cemberut. Ugghh...menyebalkan....batin ku.
Keluar dari ruangan "X-Ray", aku sadar yang menungguku di luar telah bertambah, tidak hanya Dina tapi ada dua orang lagi yang tertangkap mataku, kahima dan cowokku, L'Holic.

Aku kaget melihat wajah cowokku yang ekspresinya...duh...bikin aku ngerasa bersalah...aku nggak berani menatapnya... Akhirnya kupalingkan wajahku sementara pegawai rumah sakit (entah cowok atau cewek, nggak sempet merhatiin..) membawa ku kembali ke ruangan bertuliskan "Bedah" yang ternyata adalah bangsal berisik tadi. Aku kembali sendirian diruangan itu menahan sakit. Tapi, ternyata cowokku nyusul kedalam dan menunggui aku sampai ortu ku datang. Aku minta maaf sama dia...aku nggak bisa jaga diri... Padahal aku udah berniat kalau kuis dokkai hari ini harus berhasil dengan aku selamat sampai tujuan dan bisa ngerjain soal... tapi ternyata, kuis dokkai nggak pernah bisa kuikuti dari yang pertama sampai yang kedua ini....

Tapi sungguh aneh, meskipun aku masih merasa sakit, rasa sakit ku ini seperti berkurang ketika ada dia. Rasanya ngantuk, ketika tangannya yang besar menyentuh kening ku dan nyuruh aku tidur dan nggak perlu mikir apa-apa lagi. Namun mataku sempat terpaku pada dua butiran bening yang jatuh bersamaan. Dia nangis...walau dia bilang nggak nangis atau nggak sadar kalau dia nangis (in the end kayak nya dia nggak sadar...), tapi aku tahu dia nangis. Berkali-kali air matanya jatuh ke lenganku. Maaf ya...maaf... T.T


Aku pernah berpikir seraya memandang jalanan kampus ketika sedang menaiki motorku. Melirik sekilas pada rambu-rambu dan penunjuk arah yang kadang terpasang di perempatan jalanan dalam kampus. Waktu itu sepi, kalau nggak hari Sabtu ya Minggu waktu ada kegiatan tambahan. Aku berpikir, mungkinkah di jalanan sekecil ini, didalam kampus ini yang mirip dengan jalan-jalan di perumahan, terjadi kecelakaan layaknya di jalan raya besar?
Aku nggak nyangka, aku sendiri yang mengalaminya. Disini, di jalan dalam kampus aku tertabrak...

Nggak lama, laki-laki cemberut itu datang memberitahukan hasil foto rontgen kakiku. Empat jari kaki kiri ku patah plus persendian jempol yang bergeser. Kuku ku juga dicabuti, karena sudah tidak bisa ditolong lagi. Katanya juga nggak bakalan tumbuh. Tinggal jari kelingking yang baik-baik saja. Meskipun aku bilang nggak apa, tapi miris juga waktu nggak sengaja lihat foto kakiku waktu kecek-kecek di bedugul. Masih bagus lengkap dengan kukunya. Setelah itu, berturut-turut aku disuntik tiga kali, lalu dipasangi jarum infus. Dan akhirnya menuju ruang operasi.

Ini yang perlu kugaris-bawahi: ketika suster atau dokter memasang jarum infus dengan alasan nggak akan disuntik berkali-kali, itu setengahnya bohong. meskipun aku dipasangi infus tetap saja aku disuntik dua kali untuk tes obat bla-bla-bla, satu kali untuk suntik nggak tahu dan berkali-kali untuk obat bius. >.<

Sebelum operasi, teman-teman, kohai dan senpai menjenguk ku... ya ampun senang sekali bisa sempat bercanda dengan mereka, dan sakitku pun sedikit terlupakan.

Operasi pun berjalan konyol. Entah kesurupan apa, aku dan orang cemberut itu bisa ngobrol beserta satu orang berbaju biru lagi. Awalnya tujuanku nyerocos macem-macem adalah memperbaiki mood dan mental ku yang bener-bener down karena nggak ada yang nemenin (soalnya nggak boleh ditemenin =.='). Mereka nggoda aku yang tadi nya ditungguin cowokku. Disini aku juga baru tahu kalau mereka berdua adalah dokter (kupikir perawat) XDDDD
"Lho mas, ternyata sampeyan-sampeyan itu dokternya toh?" Tanyaku kayak nggak punya beban ketika orang  yang cemberut itu menjahit kakiku.
"Lho?! Ya apa seh mbak?? Kalo saya bukan dokter, mana berani saya pegang ginian?!" Tanyanya kaget sambil mengacungkan gunting dan semacam jarum jahit dan benangnya yang mengkilat terkena sinar lampu.
"Berarti nggak ada tampang dokter ini ceritanya..." Sambil tertawa orang yang satunya yang ternyata bernama dr. Arif berkata begitu sambil membantu dokter cemberut itu. 

Waktu orang itu bersihin darah di kakiku plus ngasih semacam obat luka, busseeeet...sakit...kayak ditotol es batu...dingin dan lincip...
"Aduuuh! Pelan-pelan po'o...." Aku mulai cerewet lagi.
"Lho? Tadi katanya suruh cepet, sekarang suruh pelan, gimana sih..." 
XDDDDDD Jawabannya nggak dokter banget. 
"Duuh...itu ditotol pake apa sih??" tanya ku rada kesel.
"Ya pake kapas laaah...." Jawabnya.
"Kok kasar gitu sih kapasnya???" Tanya ku nggak percaya. 
"Lha? emange kapas kecantikan? Ya itu kan buat facial di salon mbak..."
Spontan alisku naik sebelah, ragu kalau orang itu bener-bener pake "kapas". Karena setahuku kapas medis pun nggak sekasar itu. Tapi well, namanya juga luka...ditotol apapun tetep aja sakit... nggak mikir kesitu waktu itu...XDD

Operasi pun selesai...
"Nah ini tinggal dipotong nih..." Katanya dengan nada dingin n nggak penting.
"Hah?! apanya yang dipotong??" Aku bertanya sambil mikir yang nggak-nggak...masa jariku dipotong sih?? yang bener aja...??! pikirku.
"Benang nya mbaak, benangnyaa..." Dua dokter itu menjawab bersamaan menenangkan aku sambil tertawa.

Huaa...akhirnya keluar juga dari ruang operasi. Lagi-lagi menuju ruang bertuliskan "X-Ray". Sekarang foto tulang tengkorak. Karena pipi kiri ku bengkak, makanya difoto. Mengantisipasi jangan-jangan ada apa-apa.
"Kok nggak senyum mbak? Ntar kan bisa ditunjukin ke pacarnya." Kata dokter cemberut yang bahkan ibuku aja kesulitan membaca badge namanya. Tumben-tumben nya tuh orang tertawa.
"Emang ngefek ya? Kan cuma tulangnya yang kelihatan? " Tanyaku sambil tertawa.

Setelah semua selesai, aku dibawa kembali ke bangsal "Bedah" menunggu infus habis. Selagi menunggu, pak boz baru nongol... ketawa-ketiwi sambil bawa kipas gedenya yang entah kapan dia beli....

5 comments:

LarukuHolic said...

terharu aku baca ini~
kejadian itu seolah terlalu cepat terjadi...

kiyomi marin said...

XDD terharu di bagian mananya?? *penasaran*
iya...seolah smwnya cpt bgt...

LarukuHolic said...

part dimana aku menangis secara tak sadar...
aku tanya anak2 ternyata ada juga hal seperti itu...

jadi...
aku kemaren nangis taa??
T^T

saking sedihnya mungkin~

kiyomi marin said...

iya, km nangis...
Wkt itu aq msh pke softlen lho, jd msh keliatan hehehe...
Gpp kok, skrng udh gpp ^^

LarukuHolic said...

gak nyangka aja ada hal seperti itu, nangis tanpa sadar XDD

tapi yokatta lah kamu gak jadi gak sendirian waktu itu...