Monday, 8 April 2013

Neko-chan nggak perlu dimarahi...

Note: Ini soal kucing hitam yang ditampung kemarin

Sekarang kucing ini udah seger dan lincah ^___^
Anak kucing dan anak manusia itu hampir mirip...kalau sudah anak-anak mau nya main terus lari sana lari sini. Aku khawatir, gimana nanti kalau dia nggak dewasa kayak kucing tetangga yang udah besar pun masih tetap labil lari-lari sana sini... pengen dia jadi kucing jantan yang cool dan keren *tapi nggak doyan pipis sembarangan kayak kucing jantan idola kucing-kucing betina di perumahan yang doyan pipis sembarangan =3= *

Tapi menurutku dia sudah keren, masih kecil sudah berani nantangin kucing tua warna kuning jantan dan besar. Untuk mendidik nya, dibutuhkan trik *fiuuh* mulai dari mengenalkan tempat tidur nya sampai tempat pup dan pipis nya. Dia harus seperti kucing-kucing lain yang selalu ribut mencari pasir kalau mau buang air. Nggak boleh sembarangan. Aku baca-baca blog soal kucing, katanya masa kanak-kanak gini saat yang tepat untuk mendisiplinkan anak kucing. Kalau sudah dewasa susah. Sengaja kami nggak masukin dia didalam rumah atau masukin dia dikandang. Biar dia nggak manja, lesu dan menyedihkan kayak kucing-kucing di pet shop....sedikitpun aku nggak minat membelinya...masih bagus kucing kampung menurutku, masih aktif.

Lalu, apa mendisiplinkan itu harus dimarahi dan dipukuli?
Jelas nggak dong.

Kita sering ngajak bicara. Ini kelihatan gila, dan mungkin orang akan ngira kita ini stress ngomong sama kucing. Tapi kami mencoba mengenalkan sama dia kata-kata "Nggak boleh", "Sebentar ya.", "Tunggu disitu saja", "Bobok", "Duduk", "Ayo dimakan." , "Minum". Selain itu dikenalkan dengan isyarat jari telunjuk untuk mengenalkan arah dan penekanan. Kucing liar besar yang sering nagih ke rumah *tapi nggak mau disentuh*, seperti nya sudah paham kata "Makan.", "Sebentar", "Disitu", "Duduk" sambil kutunjuk buat nunjukin arah dan nunjukin penekanan.
Misalya : "Mio. makanan, disitu". (sambil kutunjuk), dia langsung jalan ke arah yang kutunjuk dan menemukan makanannya. :D *kalau nggak bergeming biasanya dia nggak lapar...cuma mbantuin nyariin makan buat pacarnya yang berisik =.=*
Aku ingat sebuah materi pelajaran, bahasa adalah simbol dan tanda yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi. Komunikasi juga meliputi intonasi. Yup, aku berusaha mengajarkan simbol komunikasi dari kami, manusia, kepadanya. ^___^

Berikutnya, kalau si kucing kecil ini kayaknya gelagatnya mojok-mojok mau pup atau pipis, langsung angkat dia dan dipindah ke tempat yang berpasir. Biar tau, disanalah WC nya. Pernah nggak sengaja luput dari pengawasan, dia pup di parkiran mobil, langsung deh sama ibu ditimpal dan disiram air deterjen sambil digosok \pake sapu lidi. Katanya biar bau nya *yang menandakan WC nya* hilang dan dia nggak pup disitu lagi. Alhamdulillah, dia nggak pup disitu lagi... malah tikus-tikus tuh yang pup disitu... =.=a

Selanjutnya, sengaja nggak dimasukin kerumah atau kekandang. Biar dia bisa contoh dan ambil pelajaran dari kucing liar yang berkunjung kerumah. Gimana cara berburu, gimana cara jilat-jilat badannya dan belajar problema kehidupan kucing yang lain xD. Selain itu biar dia juga punya teman dan kenalan sama kucing yang sering mampir.

Tadi, iseng-iseng baca-baca blog soal kucing. Hmm... ternyata kalau niat piara kucing sungguh-sungguh, itu lebih susah.... cuman yang pengen kuusahakan setelah membaca artikel disana adalah, pengen menjaga kondisi pencernaannya. Katanya virus toxo itu dari pencernaan kucing yang keluar bersama kotorannya.
Tapi usaha untuk itu cukup menantang. Pertama, air minumnya katanya harus matang. Kedua, piring makannya harus sering dibersihkan. Yang susah ini ngajari dia minum. Dia mau minum dari cekungan pot bunga di samping rumah. Pernah dikasih wadah sendiri tapi dia bingung nggak bisa minum.... kayaknya wadahnya harus berwarna dan memperlihatkan ada air didalam nya. Wah gimana ya mengajarinya? Apa pot nya harus ditiadakan dari situ lalu cari wadah berwarna untuk pengganti post minum?

------------------------------------------
Walaupun dia sudah diajari isyarat-isyarat untuk komunikasi *kami => dia*, tapi nampaknya masih terbelit kendala bagaimana kami memahami apa yang mau disampaikan dia kepada kami. *kami <= dia*.
Kalau dia lapaar banget, itu bisa diketahui. Dia ngeong-ngeong didepan pintu, setelah masuk dia  mengendus-endus dengan agresif dan mengeong-ngeong memohon sesuatu. Diajak main juga nggak mau. Dikasih makan, biasanya langsung lahap. Tapi disini, kayaknya harus diatur ulang jadwal makannya. Kalau jadwalnya teratur, dia nggak berisik ngeong-ngeong minta makan tapi malah sabar menunggu di depan pintu seperti kalau makan pagi. Awal-awal dia rewel ngerengek-rengek, tapi lama-lama dia udah pintar mau nunggu tanpa berisik.

Terkadang, dia itu ngeong-ngeong didepan pintu. Setelah dibuka, dia berlarian didalam rumah. Nah ini ngajak main. Tapi kadang dia nggak jelas nih...ngeong-ngeong kayak orang bingung... nah bingung deh jadinya dia mau minta apa....

Kemarin malam pun, nggak biasanya dia mengeong-ngeong berisik di depan pintu. Setelah dibuka, gelagatnya kayak bingung mondar mandir. Dikasih makan, cuma dijilat nggak dimakan. Dibawa ke teras dia sudah agak tenang. Ya sudah, kutinggal masuk...ehh...lha kok ngikut dan ngeong-ngeong lagi??
Dan ternyata, dia kayaknya mau minta tolong. Karena ada kucing lain yang tidur di kardus nya, jadi minta diusirin.... setelah kucing lain itu pergi, dia sudah tenang menempati tempat tidurnya dan tidur...ya ampun... o.oa

Kasihan juga sebenarnya, sekecil itu udah tidur sendiri... biasanya kumpul sama induknya tidur sama saudara-saudaranya. Awalnya pas baru ditampung dulu,  dia takut gelap minta ditemani. Tapi ya nggak bisa lah... akhirnya berusaha membiarkannya biar berani. Sekarang sih sudah berani, kucing liar betina juga kadang datang berkunjung. Kadang juga menemani dia tidur...hmm... hewan punya sifat keibuan juga kali ya... nggak tega lihat anak kecil sendirian....

Mau ibu panggil dia blacky atau apa, dihatiku nama dia itu Ritsuka. Sama kayak ritsuka - loveless, sama-sama hitam juga.

No comments: