Ini adalah tugas akhir makalah taishuu bunka yang aku susun (dan dikumpulkan tentu saja xDD) untuk UAS semester genap 2010/2011 bulan Juli 2011 lalu.
Karena udah KHS an, nilai juga sudah keluar, akhirnya saatnya posting makalah ini ke Blog untuk sekedar sharing informasi.
Gara-gara membaca sebuah artikel (entah dimana) bahwa manga Jepang yang berasal dari Jepang yang notabene Jepang itu negara timur mendapatkan sensor pornografi yang ketat ketika memasuki pasar Amerika. Nah lho? Kok gitu?
Mengingat reputasi Amerika soal pornografi itu kan terbuka banget. Film-film legal nya dari sono juga kadang nggak pake sensor sama sekali ketika menampilkan adegan dewasa, penyanyi-penyanyi dari sana juga pakaiannya kalau konser juga banyak yang vulgar kayak britney spears, lady gaga dan semacamnya.
Tapi, kok manga Jepang ada sensor ketat? ada apa?
Nah, semoga makalah ku yang ku share disini bisa bermanfaat.... ^___^
Ini Judul asli makalah ku:
SENSOR DAN PENOLAKAN BEBERAPA MANGA DI AMERIKA DAN INDONESIA
Note: karena ini hasil copas dari word ke html nya, mungkin susunan paragraf nya agak nggak teratur. Tapi kata-katanya sama persis dari makalah.
Bisa baca langsung di postingan ini atau di sini untuk versi scribd nya.
================================================
I. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Manga Jepang sudah lama menjadi populer di negara-negara lain termasuk di Indonesia dan di Amerika. Banyak genre-genre yang di tawarkan mulai dari genre anak-anak, remaja, dan dewasa. Sehingga manga tidak hanya diperuntukkan untuk anak-anak saja. Namun, genre-genre yang sudah diatur dan di standar kan dari negeri asalnya yaitu Jepang itu pun mengalami ketidakcocokan dengan standar genre-genre dari negara lain termasuk Indonesia. Namun yang mengejutkan, Amerika yang terkenal dengan kesan erotis dan banyak terdapat adegan seksual pada film-filmnya ini ternyata juga merasa harus melakukan sensor ulang terhadap manga-manga Jepang yang masuk ke negaranya.
1.2 PERMASALAHAN
1. Genre-genre apa saja yang ada dalam manga Jepang dan bagaimana kecocokan genre tersebut dengan sasaran usia menurut pandangan Indonesia pada umumnya?
2. Manga yang bagaimanakah yang mendapat sensor dari Amerika?
1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui bagaimana perbedaan standar dan pandangan Indonesia dan Amerika mengenai Manga Jepang.
2. Untuk memenuhi tugas makalah sebagai Ujian Akhir Semester mata kuliah Budaya Populer Jepang .
1.4 METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan adalah studi literatur. Sumber berasal dari buku, berita di internet serta beberapa opini-opini masyarakat.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
II. PEMBAHASAN
1.1 JENIS-JENIS GENRE MANGA JEPANG DAN KECOCOKANNYA DENGAN SASARAN USIA MENURUT PANDANGAN INDONESIA PADA UMUMNYA
Jenis-jenis genre manga Jepang banyak macamnya. Genre-genre tersebut dibuat sesuai sasaran usia konsumen yang dituju serta isi cerita. Genre-genre tersebut diantaranya adalah shoujou, shounen, josei, seinen, kodomo, hentai, shonen ai, shoujou ai, yaoi, yuri dan masih banyak lagi. Mungkin inilah yang membedakan manga jepang dengan kartun-kartun negara lain, yaitu banyaknya genre yang ada didalam manga. Namun dari banyak macam genre, genre yang tersebut diatas tampaknya merupakan genre yang sering menempel pada manga-manga Jepang yang rilis.
Shoujou merupakan manga yang diperuntukkan bagi anak perempuan usia 10 sampai 18 tahun. Sementara shounen diperuntukkan bagi anak laki-laki dengan range usia yang sama. Bila dilihat kanji dari shoujou (少女) artinya adalah gadis kecil. Dan shounen (少年) artinya adalah anak muda. Shoujou manga memiliki ciri yaitu tokoh-tokoh yang digambarkan bermata besar, cantik dan tampan, ceritanya kebanyakan berfokus tentang percintaan anak muda yang ringan dan berbunga-bunga dengan unsur emosional. Lalu shounen manga banyak memfokuskan cerita nya ke tema kepahlawanan dan kekuatan. Kemudian Josei diperuntukkan bagi perempuan diatas 18 tahun dan seinen diperuntukkan bagi laki-laki diatas 18 tahun. Josei (女性) artinya adalah wanita, sementara seinen (青年) berarti pria muda. Dua genre ini merupakan versi lebih dewasa dari shoujou dan shonen. Kodomo adalah genre manga yang ditujukan untuk anak-anak kecil dibawah 10 tahun atau genre semua umur. Ciri nya adalah gambarnya yang dibuat lucu dan tidak proposional serta ceritanya biasanya menggambarkan kehidupan sehari-hari seorang anak bersama keluarganya. Yaoi dan yuri merupakan dua genre yang hampir sama yang tema nya adalah homoseksual. Bedanya, yaoi adalah kisah percintaan diantara dua pria sementara yuri adalah kisah percintaan diantara dua wanita atau yang lebih dikenal dengan hubungan percintaan lesbian. Yaoi dan yuri lebih diperuntukkan pembaca usia 18 tahun keatas seperti josei dan seinen. Shounen ai dan shoujou ai juga hampir serupa, merupakan manga bergenre homoseksual sama seperti yaoi dan yuri namun lebih ringan, sekelas shoujou manga.
Berikutnya hentai manga. Definisi Hentai manga disini mengalami perbedaan antara menurut definisi barat dan Jepang. Menurut definisi dan pandangan Barat, hentai manga adalah manga yang mengandung adegan pornografi, erotis dan adegan seksual yang sangat eksplisit dan ekstreme. Adegan pornografi atau seksual disini tanpa sensor dan sangat ekstreme. Karena ke-ekstreme-an nya akhirnya disebut hentai. Walau begitu, definisi itu berbeda dengan definisi yang sebenarnya dimaksud oleh Jepang. Secara litteral, hentai dapat diartikan sebagai ”keabnormalan” atau ”seksualitas yang tidak wajar”. Karena pengertian seperti itu, sebenarnya yang dimaksud hentai oleh Jepang adalah hubungan seksual yang tidak wajar seperti aktifitas seksual antar sesama jenis atau homoseksual atau hubungan heteroseksual atau beda gender namun dengan keadaan atau situasi yang tidak wajar dan juga ekstreme. Bila melihat pengertian hentai menurut definisi Jepang, yang dapat dikategorikan hentai adalah adegan seksual yang ekstreme dan tidak wajar pada yaoi, adegan pemerkosaan yang dilakukan sejumlah pria terhadap seorang wanita atau lebih, adegan seksual yang pasangannya aneh seperti alien atau monster, atau yang pasangannya tidak seharusnya yaitu anak-anak. Manga yang menampilkan adegan seksual namun tidak aneh atau ekstreme seperti gambaran diatas lebih disebut sebagai ero manga. Namun, barat mendefinisikan ero dan hentai menurut definisi Jepang menjadi satu kesatuan dan disebut hentai saja.
Dari definisi-definisi diatas, sesuai kultur Indonesia, kira-kira dapat diperkirakan mana yang ”aman” untuk diterbitkan dan dikonsumsi masyarakat terutama anak muda Indonesia. Melihat dari sasaran konsumen dari tiap genre, kemungkinan besar yang ”aman” untuk diterbitkan di Indonseia adalah shoujou dan shounen. Hal itu sudah jelas terlihat dari manga-manga yang diterbitkan di Indonesia melalui dua penerbit yang sudah cukup dikenal dan dipastikan legal, yaitu Elex Media Komputindo dan M&C Comics. Untuk manga yang masuk kategori dewasa di Indonesia, ada Level Comics. Diantara manga Level Comics seperti ”Little Devil Cafe” karya Oda Aya, masuk kedalam penerbit Level Comics, padahal di berbagai informasi di internet menyatakan bahwa judul tersebut masih shoujou manga. Sama hal nya dengan ”Perfect Girl Evolution” dan ”Love & Collage” yang dalam bahasa Jepang berjudul ”Ai kora” yang menurut info masih termasuk shounen. Yang perlu diperhatikan berikutnya adalah pada ”Little Devil Cafe” dan ”Ai Kora”. Terdapat genre smut pada ”Little Devil Cafe” dan ecchi pada ”Ai Kora”. Mengapa demikian? Dari sini sudah sedikit terlihat bahwa standar pengelompokan genre dan rating usia pembaca antara Jepang dan Indonesia sudah berbeda dan kurang cocok. Kemungkinan perbedaan kriteria dewasa menurut Jepang dan Indonesia ada. Dan manga-manga yang dirasa masuk kategori ”lebih dari dewasa” menurut Indonesia, kabarnya diterbitkan melalui penerbit-penerbit yang diduga ilegal.
1.2 MANGA YANG MASUK KE AMERIKA
Apa yang sering kita dengar ketika membicarakan image masyarakat terutama anak muda di negara barat termasuk Amerika? Lalu apa yang sering terdengar dan sudah melekat dalam image film-filmnya yang memiliki rating dewasa? ”Free-sex” adalah salah satu hal yang kita sering dengar tentang masyarakat Amerika. Rating dewasa dengan adegan percintaan yang eksplisit serta pornografi juga melekat pada image film-film barat termasuk Amerika yang tergolong dewasa. Namun, sangat mengejutkan setelah mengetahui bahwa ada kritikan bahwa manga Jepang itu terkadang brutal, vulgar dan porno. Banyak sensor dilakukan di Amerika ketika manga Jepang masuk ke sana. Ada juga yang ditolak untuk beredar di Amerika.
Berbagai aturan pengedaran hal-hal yang dianggap ”porno” oleh Amerika berlaku. Hal ini dilakukan untuk menjaga moralitas warga negaranya. Yang dipermasalahkan didalam manga Jepang adalah tokoh anak-anak didalam manga. Anak-anak yang dimaksud disini adalah anak-anak usia 5 sampai lulus pendidikan. Didalam manga Jepang, banyak sekali tokoh anak-anak yang tampil dalam pakaian yang erotis seperti bikini. Ada juga adegan porno yang menggunakan tokoh anak-anak. Hal seperti ini sangat dipermasalahkan di Amerika. Adegan anak-anak SMA yang melakukan aktifitas seksual secara eksplisit dengan sesama usia atau dengan seseorang yang jauh lebih tua juga termasuk menjadi hal yang dipermasalahkan. Mereka memiliki peraturan yang meng-ilegal-kan penjualan barang-barang visual yang menampilkan keterlibatan anak-anak didalam aktifitas seksual yang eksplisit. Didalam salah satu artikel di CNN yang berjudul ”Pornographic Cartoons and Comics Banned in US: Anime and manga pornography found illegal in the US.” , dipaparkan peraturan tersebut :
”The Child Pornography Prevention Act of 1996 made it illegal to possess or distribute any visual depiction that "appears to be" or "conveys the impression" of a child engaging in a sexually explicit act.”.
Dan sanksi bagi yang melanggar aturan ini dengan tetap memproduksi atau mengkonsumsi manga Jepang yang menampilkan anak-anak dalam perilaku seksual dan pornografi akan di penjara selama lima tahun hingga sepuluh tahun.
Menurut salah satu artikel didalam “Scientific American”, orientasi seksual terhadap anak-anak tidak sesuai dengan norma yang ada di Amerika. Orientasi-orientasi seksual terhadap anak-anak tersebut dibagi empat macam didalam artikel tersebut :
“……..what’s called a hebephile, a newly proposed diagnostic classification in which people display a sexual preference for children at the cusp of puberty, between the ages of, roughly, 11 to 14 years of age. Pedophiles, in contrast, show a sexual preference for clearly prepubescent children. There are also ephebophiles (from ephebos, meaning “one arrived at puberty” in Greek), who are mostly attracted to 15- to 16-year-olds; teleiophiles (from teleios, meaning, “full grown” in Greek), who prefer those 17 years of age or older)……”
Jadi, walaupun mungkin Amerika masih tetap membebaskan free-sex dan identik dengan film-film dewasa nya yang lekat dengan pornografi, Amerika masih memiliki prinsip-prinsip dan standar dalam menampilkan pornografi dan sexual activity didalam suatu produk visual. Prinsip tersebut adalah tidak melibatkan anak-anak dalam adegan seksual didalam produk tersebut karena anak-anak dianggap masih dibawah umur atau minor. Dan pandangan seperti itulah yang membuat Amerika masih harus menyeleksi, memberi sensor bahkan melarang beberapa manga Jepang beredar di negaranya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~
III. KESIMPULAN
Manga Jepang yang termasuk dalam kategori kartun atau cartoon ternyata memiliki kekayaan dalam jenis cerita dan genre. Manga tidak hanya disajikan untuk anak-anak namun juga untuk remaja dan dewasa. Namun, pandangan negara lain yang umumnya menganggap bahwa kartun yang memiliki gambar lucu dan menarik umumnya adalah konsumsi anak-anak, kurang dapat menerima pengedaran manga-manga Jepang didalam negaranya secara bebas tanpa proses sensor termasuk di Indonesia bahkan di Amerika.
Indonesia kurang berkenan membiarkan manga-manga Jepang apa saja yang mengandung unsur pornografi tak peduli siapa dan bagaimana tokohnya. Namun, Amerika keberatan dengan manga-manga Jepang yang menampilkan unsur pornografi dan keterlibatan anak-anak dalam adegan seksual.
~~~~~~~~~~~~~~~~
DAFTAR PUSTAKA
Powers, Richard Gid & Hidetoshi Kato. 1989. Handbook of Japanese Popular Culture. America: Greenwood Press
http://elexmedia.multiply.com/journal/item/48
Diakses 7 Juli 2011 pukul 17.00
http://www.mangaupdates.com
Diakses 7 Juli 2011 pukul 17.45
http://elexmedia.multiply.com/reviews/item/784
Diakses 7 Juli 2011 pukul 18.13
http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=pedophiles-erotic-age-orientation
Diakses 7 Juli 2011 pukul 19.01
=====================================================
Nah, itulah tadi makalah ku.
Namun, ketika aku sudah selesai UAS dan libur semester, iseng2 browsing sana sini aku mendapati sebuah 'wacana' bahwa didalam gambar karikatur Amerika sendiri sebenarnya terdapat unsur pornografi. Namun dapat tersembunyi dengan sosok kartun yang telah jadi dan diwarnai. Unsur tersebut bisa diketahui atau terdeteksi ketika kita mencoba menggambar tokoh tersebut dengan step-step tertentu. Gimana sih? wah bingung juga jelasinnya, aku juga nggak bahas itu sih di makalah ku hihihihihi *menghindar*
Coba tonton aja video dibawah mngkin lebih jelas.
Ini adalah video ilustrasi dari wacana tersebut. Sebenarnya video ini adalah bagian dari sebuah dokumenter tapi aku langsung mengarahkannya pada poin yang nyambung dengan tema diatas saja.
http://youtu.be/de6ROrSWqj4?t=7m26s (andalkan listening karena nggak ada terjemahan)
http://youtu.be/c9q21SBBHU0?t=7m24s (nah yang ini baru ada translate nya xDD)
No comments:
Post a Comment