Monday, 8 August 2011

Serius deh, bangga dan cintailah produk pertanian & peternakan Indonesia Asli!!

Note: pengen nyeritain apa yg kulihat di film dokumenter yang kulihat beberapa hari ini. Tema: Pengolahan Makanan ala modernisasi barat. Sorry kepanjangan banget nih...
Mungkin ada yang udah denger ceritaku jadi nggak perlu baca lagi...

Beberapa hari nonton film dokumenter yang berawal dari rasa ingin tahu tentang video yg bahas band-band yang katanya satanis. Tapi sudahlah...soal itu adalah topik yg berat untuk dibahas panjang lebar disini. Tonton saja video nya XDD *selain itu cukup kontroversial jadi ogah deh*

Dari film itu yang mau kubahas disini adalah soal yang cukup ringan yaitu "makanan", "produk pertanian" dan "perlakuan pada hewan" dalam modernisasi western.
Ini video yg ttg makanan

Disana membahas dampak kapitalisme, ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap pengolahan makanan.*yang kalau nonton semua video disitu, Kapitalisme disini muaranya dari satanis juga*.

Kapitalis disono udah tingkat akut. "Duit" adalah hal yang diagung-agungkan disana. Apapun dilakukan yang penting Duit, kekuasaan, dan glamour bisa diraih. Termasuk cara produksi makanan dan beternak yang sama sekali nggak manusiawi, nggak menghargai hewan, nggak memperhatikan kesehtan lingkungan dan konsumen. Kok bisa??


Berdasarkan video, peternakan dan perkebunan disana benar-benar tidak sehat dan sama sekali nggak alami. Ayam dan sapi gede-gede *ayam horen yg ada di indonesia tu termasuk g ya?? Kalo keluarga ku sih dari dulu berusaha nggak sering-sering makan horen soalnya*. Sayuran dan buah juga gede-gede. Semua bahan makanan yang gede-gede, menggiurkan dan kelihatan segar itu ternyata pengolahannya sama sekali nggak sehat dan sangat jauuuhhhhhh dari yang namanya "Halal".

Pertama ayam. Ayam disana diternak didalam rumah-rumah ayam yang tertutup dan nggak ada cahaya. Sejak lahir ayam-ayam itu nggak pernah melihat cahaya luar...*hiks kasihan* Nggak pernah juga sesekali dilepasin kayak ayam-ayam yang didesa-desa di indo. Di taruh didalam kandang pun kandangnya nggak pernah dibersihin dari kotoran. Pokoknya ayam-ayam itu dibiarin didalam situ sampai beranak pinak dan ketika dewasa mereka diambili dengan kasar malam-malam ketika ayam-ayam itu tidur untuk dibawa ke penjagalan. Dari segi makanan, ayam-ayam itu diberi makan jagung. Alasannya: jagung murah dan mempercepat pertumbuhan ayam. Kecepatan pertumbuhan ayam itu abnormal, terlalu cepat dari pada pertumbuhan ayam normalnya. Badannya besar sebelum waktunya. Intinya, memberi ayam-ayam itu jagung sangat tidak sehat bagi ayam. Akibatnya ayam-ayam itu nggak selincah ayam-ayam normalnya seperti ayam didesa yang paling nggak bisa terbang dikit lah. Hanya mampu berjalan selangkah dua langkah lalu duduk. Tulang-tulang ayam itu sebenarnya masih belum sanggup menopang badan mereka yang membesar dengan abnormal. Namun, cara membesarkan ayam seperti itu adalah sebuah tuntutan perusahaan makanan agar dapat mendapatkan daging ayam yang besar dalam waktu yang singkat. Cara menyembelihnya pun jauh dari "Halal". Ayam-ayam itu diolah dengan mesin hidup-hidup. Semua perusahaan makanan disana sama saja pola pikir nya. => Memproduksi daging yang besar, dalam waktu singkat dan cepat menghasilkan "Duit".

Kedua daging sapi. Produksi daging sapi sangat diutamakan mengingat para western tu emang makanannya selalu butuh daging sapi beda dengan indonesia yang masih balance dalam hal makan dan masih bisa diajak vegetarian. Produksi daging sapi ini terutama untuk membuat daging hamburger. Sama hal nya dengan ayam, sapi-sapi disana juga diberi makan jagung dan selalu berada didalam kandang. Sapi-sapi itu nggak pernah dilepas di padang rumput untuk makan rumput. Padahal sapi secara natural makanannya adalah rumput, tapi mereka dibiasakan diberi jagung. Efek jagung itu juga nggak sehat bagi sapi. Muncul bakteri E.Coli didalam tubuh sapi. Seperti halnya dengan ayam juga, sapi-sapi itu juga nggak dibersihin sampai sapi-sapi itu ada yang tenggelam dalam pupuk-pupuk kotoran mereka.
Mereka dibawa ke penjagalan dalam keadaan kotor *aku lebih menyebutnya penggilingan coz sapi-sapi itu digiling hidup-hidup.... huaaaaa semoga mereka diberi kebahagiaan di alam sana D'X*. Mereka sama sekali nggak dibersihkan dari kotoran, langsung digiling begitu saja. Setelah digiling, barulah dagingnya disterilkan dengan something yang mencegah bakteri E.Coli. Tapi katanya kadang masih ada pupuk yang ikut masuk dalam adonan daging hamburger, termasuk buat daging hamburgernya mc D disana. *karena itu aku sedikit bersyukur apabila mc D di indonesia yang sudah dapat sertifikat halal itu bahan-bahan daging nya bener-bener sudah dimodif dengan menggunakan daging sapi dan ayam produksi indonesia asli, sekalian juga tomat dan seladanya.*. Bakteri E.Coli itu juga kadang masih hidup. Lagi-lagi, perusahaan makanan tak peduli dengan hal itu yang penting ia mendapat produksi daging yang murah, cepat mengalirkan "Duit" dan dijual dengan harga yang bahkan lebih murah dari pada harga 1 kubis untuk terus menerus menarik konsumen untuk membelinya lagi dan lagi. Apalagi fastfood itu penyajiannya cepat dan praktis ditambah murah nya juga. Tidak hanya itu, daging babi pun juga diperlakukan dengan sama.

Namun, banyak anak-anak disana meninggal karena terkena bakteri E.Coli. Banyak juga masyarakat western yang menentang hal seperti itu. Mereka menuntut perlindungan masyarakat. Okelah teknologi mereka sudah sangat maju, tapi kenapa melindungi warganya dalam hal dasar yaitu makanan saja tidak ada yang bisa, itulah salah satu kritikan mereka. Petani dan peternak disana berada dibawah tekanan. Hutang menjadi salah satu faktor. *liat videonya untuk jelasnya*. Namun ada peternak yang tetap memegang prinsip keseimbangan alam. Jangan hanya mengkonsumsi hewan-hewan itu, tapi juga membersihkan mereka dan memberi mereka makanan yang semestinya dengan melepaskan mereka di padang rumput di siang hari, begitulah penegasan salah satu anggota peternak di peternakan terbuka itu. Mereka tetap bersikeras melanjutkan peternakan mereka, tak peduli orang-orang elit mengatakan peternakannya kotor karena berada di alam terbuka. Tapi hewan memang naturalnya berada di alam. Tak peduli  juga alat-alat ternak mereka masih tradisional. Cara seperti ini lebih bersih dan sehat serta menghargai hewan. Tapi walau gitu emang nyembelihnya emang masih belum bisa dibilang halal sih bagi muslim karena nggak pake doa dan tata cara muslim XDD. Tapi mereka jaga kebersihan, jadi bagi non-muslim mungkin tidak ada masalah. Aman-aman saja.

Lalu untuk sayuran. Tak sedikit sayuran dan buah yang di "edit" dengan bahan kimia sehingga tampak besar dan segar. Memang tak terlalu dibahas mendalam seperti daging dan ayam sih, tapi terlalu banyak bahan kimia masuk dalam tubuh itu juga tidak baik.

Dan untuk jus-jus dan minuman dalam kemasan. Betul-betul diragukan keasliannya karena semua bahannya adalah bahan kimia juga. Rada susah jelasinnya *silahkan tonton saja video nya untuk bagian ini xD*

Well, intinya, jangan terlalu suka membanggakan makanan import terutama dalam hal daging. Soalnya nggak jelas gimana nyembelihnya, gimana pengolahannya, meragukan juga ke-halal-an nya. Meskipun orang indo nggak secanggih mereka, tapi peternakan dan pertanian kita masih bersih, masih menghargai hewan dan masih peduli dengan kesehatan ternak nya. Penyembelihannya pun dipastikan halal oleh pemerintah. ^_____^
Penanganan flu burung di Indonesia masih jauh lebih baik dan di seriusi dibanding penanganan E.Coli disono *pendapatku setelah liat video itu*. Kita udah ribut dan kalang kabut memberi penanganan dan pengecekan sana-sini serta pembasmian. Ada makanan berbahan 'ngawur' juga dicek di badan POM plus dikuak habis-habisan di TV. Sementara di western sana mereka cenderung tutup mulut, perusahaan nggak transparansi dan nggak peduli dengan konsumen asal menghasilkan duit. Penyelidikan dalam video itu saja tampak sulit.

Banggalah dengan produk pertanian dan peternakan di negeri kita sendiri. Meskipun agak mahal dikit tapi aman.
Jangan biarkan para petani dan peternak putus asa dan menjual lahannya untuk perumahan mahal dan elit.

Pesan moral dari nonton video ini:
You don't have to be like a western to become good.
Tiap orang, tiap bangsa dan tiap suku punya ciri khas, keunggulan dan kelemahan masing-masing. Because nobody perfect including western.
Dunia modern, manusia-manusia berjas dan berdasi yang pintar terkadang jauh dari yang namanya hati nurani, moral, kebijaksanaan dan kearifan.
Pengetahuan dan teknologi yang tidak dibarengi dengan hati nurani, akan menjadi tidak manusiawi.
Yang terakhir, be balance with nature.

4 comments:

stevano said...

makasih info-nya.. semoga kita semua dihindarkan & mau menghindari kekejaman & kebodohan demikian.. amiiin.

d3p3 said...

Videonya dimana kok ga ada, jadi penasaran.


Salam,
d3p3
http://membuatweb123.blogspot.com
Panduan cara membuatweb123.blogpsot.com

kiyomi marin said...

ah iya lupa ngasih tahu,
vid youtube nya yg punya blog itu lagi diblokir entah mungkin oleh orang2 yg merasa terancam dgn tayangan tsb...
Tayangan dgn sub Indo sudah hampir g ada. Ini ada yg sub spanyol, tapi audio nya masih inggris kok ^___^
http://www.youtube.com/watch?v=hX6Xkbn_Hp4&feature=related

kiyomi marin said...

atau coba search di you tube mungkin masih ada yg pake teks indonesia